Recent Blog post
Jurnalis Sebagai Profesi Penyambung Informasi Karunia Allah S.W.T
I.
LANDASAN UMUM
a. Berdasarkan Al-Qur’an Surat At Taubah(Pengampunan) Ayat 105 (9:105)
Ayat :
waquli i'maluu fasayaraa allaahu
'amalakum warasuuluhu waalmu/minuuna wasaturadduuna ilaa 'aalimi
alghaybi waalsysyahaadati fayunabbi-ukum bimaa
kuntum ta'maluuna
Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka
Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan
kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS at-Taubah
/9: 105).
b.
Asmaul Husna : Al Khooliqu/
(Allah Maha Pencipta)
c.
Pembiasaan
Sikap : Tawakal ( Berserah diri kepada
Allah)
d.
Hadist : Senyum
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَ خِيكَ صَدَقَةٌ
“Senyum manismu di hadapan saudaramu adalah shadaqah” (HR. Tirmidzi)
“Senyum manismu di hadapan saudaramu adalah shadaqah” (HR. Tirmidzi)
II.
PENGETAHUAN UMUM
Profesi
merupakan suatu pekerjaan namun tidak semua pekerjaan adalah profesi, karena
profesi memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi, juga
ada persyaratan untuk lulus dari suatu tes yang menguji, terutama dalam
pengetahuan teoretis.
Profesi
adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu
pengetahuan khusus. Suatu profesi memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta
proses sertifikasi dan lisensi yang khusus bagi para anggotanya dan prosedur
pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan. Untuk bidang profesi contohnya
adalah pada bidang hukum, keuangan, militer, teknik desainer, tenaga pendidik,
dokter, dan jurnalis.
Jurnalis
adalah orang yang melakukan pekerjaan tentang jurnalistik dan sebagai mitra
pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dapat bekerjasama dengan media untuk
menyampaikan kepada masyarakat mengenai program kerja dan realisasinya.
Berbagai hal mengenai kegiatan yang akan dan telah dilaksanakan oleh pemerintah
dapat disampaikan kepada masyarakat melalui media masssa yang telah di buat
oleh para jurnalis.
VIII.
DAFTAR PUSTAKA
-
https://haditsarbain32.wordpress.com/2013/06/01/hafalan-hadits-pendek-arbain/
-
http://romeltea.com/sejauh-mana-sih-peran-seorang-wartawan/
-
http://yuanitavhytriviong.blogspot.com/2012/06/makalah-wartawan-bukanlah-profesi-yang.html
IX.
PENANGGUNG JAWAB ACUAN TEMA
a.
Nurlaela
Habibah, S.Sos
b.
Agus Setya
Reni, S.Pd
Acuan Tema Bulan Maret 2015
Menerapkan Pola Asuh yang sensitive Gender, penting bagi anak laki-laki dan anak perempuan agar mereka berkembang secara optimal.
Terhadap perilaku anak laki-laki yang biasa lebih aktif dan agresif, ternyata orangtua tidak disarankan untuk melabel "nakal" atau "pemberontak", karena, memang demikianlah salah satu perbedaan antara perempuan dengan lelaki.
Perempuan memiliki daya ingat jangka panjang yang lebih hebat, sehingga mampu menyelesaikan soal dengan cara yang sudah diajarkan. Sementara laki-laki punya kreatifitas dan keberanian mengambil resiko yang lebih besar, sehingga lebih memilih mengunakan cara baru untuk menyelesaikan soal yang sama.
Pengetahuan tentang perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan, dapat menjadi modal berharga bagi orang tua, dalam menerapkan pola asuh yang tepat bagi anak-anak dengan jenis kelamin berbeda.
Nature dan nurture. Dulu, banyak kalangan berpendapat bahwa perkembangan peran jenis kelamin disebabkan oleh faktor bawaan saja (nature), seperti hormon, kromosom, dsb, atau faktor lingkungan saja (nurture), misalnya yang didapat dari pola asuh, perlakuan lingkungan dan lain sebagainya. Padahal, melihat salah satu faktor tanpa mengkaitkannya dengan faktor lain sangat berbahaya bagi perkembangan anak. Karena pada dasarnya, kedua faktor tersebut saling mempengaruhi. Pentingnya pola asuh yang sensitive terhadap gender atau peran jenis kelamin, untuk lebih memahami apa kebutuhan anak sesuai dengan jenis kelaminnya masing-masing. Perlakuan terhadap anak laki-laki tentu berbeda dengan perlakuan terhadap anak perempuan. Semua disesuaikan dengan keunikan masing-masing jenis kelamin, yang tentu berbeda secara biologis, perkembangan motorik dan kognitif, serta perilaku sosial dan kepribadiannya.
Sensitive sesuai takaran. menerapkan pola asuh yang sensitive gender, sangat penting untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebutuhan anak. Orangtua bisa saja kurang sensitive dalam menerapkan pola asuh sesuai gender, sehingga semua anak baik laki-laki maupun perempuan di perlakukan sama. Misalnya, semua anak harus belajar tari balet atau semua anak harus berani membetulkan genteng, tanpa memperhatikan minat dan kenyamanan anak dalam melakukannya. Pola asuh yang kurang sensitif gender seperti ini, akan mengakibatkan anak merasa tidak nyaman, merasa kebingungan dalam berperan sesuai dengan jenis kelamin. Sehingga pada tingkat yang lebih serius, dapat berakibat pada kebingungan orientasi seksual hingga depresi.
Sebaliknya, perlakuan terlalu sensitif dalam emnjalankan peran jenis kelamin., juga kurang baik pengaruhnya bagi anak. Misalnya, anak perempuan harus selalu memakai rok, tidak boleh bekerja kasar apalagi mencuci mobil, harus selalu menurut dan lain sebagainya. Sedangkan anak laki-laki tidak boleh menangis, tidak boleh memasak dan harus memakai pakaian berwarna gelap, dll. Hal ini akan membuat anak merasa diperlakukan kurang adil, misalnya, membandingkan dirinya dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, memiliki konsep diri yang terbatas, kurang fleksibel terhadap peran yang ada- misalnya bapak yang tidak mau menggendong bayi karena merasa tidak pantas laki-laki menggendong bayi serta kurang sensitif atau kurang dapat berempati terhadap lawan jenis.
yang paling tepat adalah pola asuh yang tidak keterlaluan sensitifnya, namun juga bukan tidak peka. Jadi, cukup sensitif dan fleksibel berada ditengah-tengah antara dua ekstrim tersebut. bukankah tidak ada salahnya seorang anak laki-laki memiliki beberapa sifat feminim, seperti penuh kasih sayang atau lembut. dan anak perempuan juga boleh memiliki beberapa sifat maskulin, seperti mandiri dan berani mengambil resiko, jika semua itu merupakan nilai-nilai yang dibutuhkan sang anak dalam menggapai masa depannya.
Pola asuh seperti itu akan membuat anak menjadi lebih berpikiran terbuka, fleksibel, mudah beradaptasi dengan keadaan, terampil di berbagai bidang, lebih ekspresif, dan akhirnya akan membuatnya lebih bahagia dengan hidupnya.
Sumber : Ayahbunda.co.id
By : ANggun W.
Terhadap perilaku anak laki-laki yang biasa lebih aktif dan agresif, ternyata orangtua tidak disarankan untuk melabel "nakal" atau "pemberontak", karena, memang demikianlah salah satu perbedaan antara perempuan dengan lelaki.
Perempuan memiliki daya ingat jangka panjang yang lebih hebat, sehingga mampu menyelesaikan soal dengan cara yang sudah diajarkan. Sementara laki-laki punya kreatifitas dan keberanian mengambil resiko yang lebih besar, sehingga lebih memilih mengunakan cara baru untuk menyelesaikan soal yang sama.
Pengetahuan tentang perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan, dapat menjadi modal berharga bagi orang tua, dalam menerapkan pola asuh yang tepat bagi anak-anak dengan jenis kelamin berbeda.
Nature dan nurture. Dulu, banyak kalangan berpendapat bahwa perkembangan peran jenis kelamin disebabkan oleh faktor bawaan saja (nature), seperti hormon, kromosom, dsb, atau faktor lingkungan saja (nurture), misalnya yang didapat dari pola asuh, perlakuan lingkungan dan lain sebagainya. Padahal, melihat salah satu faktor tanpa mengkaitkannya dengan faktor lain sangat berbahaya bagi perkembangan anak. Karena pada dasarnya, kedua faktor tersebut saling mempengaruhi. Pentingnya pola asuh yang sensitive terhadap gender atau peran jenis kelamin, untuk lebih memahami apa kebutuhan anak sesuai dengan jenis kelaminnya masing-masing. Perlakuan terhadap anak laki-laki tentu berbeda dengan perlakuan terhadap anak perempuan. Semua disesuaikan dengan keunikan masing-masing jenis kelamin, yang tentu berbeda secara biologis, perkembangan motorik dan kognitif, serta perilaku sosial dan kepribadiannya.
Sensitive sesuai takaran. menerapkan pola asuh yang sensitive gender, sangat penting untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebutuhan anak. Orangtua bisa saja kurang sensitive dalam menerapkan pola asuh sesuai gender, sehingga semua anak baik laki-laki maupun perempuan di perlakukan sama. Misalnya, semua anak harus belajar tari balet atau semua anak harus berani membetulkan genteng, tanpa memperhatikan minat dan kenyamanan anak dalam melakukannya. Pola asuh yang kurang sensitif gender seperti ini, akan mengakibatkan anak merasa tidak nyaman, merasa kebingungan dalam berperan sesuai dengan jenis kelamin. Sehingga pada tingkat yang lebih serius, dapat berakibat pada kebingungan orientasi seksual hingga depresi.
Sebaliknya, perlakuan terlalu sensitif dalam emnjalankan peran jenis kelamin., juga kurang baik pengaruhnya bagi anak. Misalnya, anak perempuan harus selalu memakai rok, tidak boleh bekerja kasar apalagi mencuci mobil, harus selalu menurut dan lain sebagainya. Sedangkan anak laki-laki tidak boleh menangis, tidak boleh memasak dan harus memakai pakaian berwarna gelap, dll. Hal ini akan membuat anak merasa diperlakukan kurang adil, misalnya, membandingkan dirinya dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, memiliki konsep diri yang terbatas, kurang fleksibel terhadap peran yang ada- misalnya bapak yang tidak mau menggendong bayi karena merasa tidak pantas laki-laki menggendong bayi serta kurang sensitif atau kurang dapat berempati terhadap lawan jenis.
yang paling tepat adalah pola asuh yang tidak keterlaluan sensitifnya, namun juga bukan tidak peka. Jadi, cukup sensitif dan fleksibel berada ditengah-tengah antara dua ekstrim tersebut. bukankah tidak ada salahnya seorang anak laki-laki memiliki beberapa sifat feminim, seperti penuh kasih sayang atau lembut. dan anak perempuan juga boleh memiliki beberapa sifat maskulin, seperti mandiri dan berani mengambil resiko, jika semua itu merupakan nilai-nilai yang dibutuhkan sang anak dalam menggapai masa depannya.
Pola asuh seperti itu akan membuat anak menjadi lebih berpikiran terbuka, fleksibel, mudah beradaptasi dengan keadaan, terampil di berbagai bidang, lebih ekspresif, dan akhirnya akan membuatnya lebih bahagia dengan hidupnya.
Sumber : Ayahbunda.co.id
By : ANggun W.
Menerapkan Pola Asuh Yang Sensitive Gender
Budidaya Tanaman Tomat Karunia Allah S.W.T
I.
LANDASAN UMUM
a. Berdasarkan Al-Qur’an Surat Al-An’am (6) Ayat 99 :
Artinya : Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu
Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan
dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman
yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai
yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan
delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu
pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang
demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (QS.
An-An’am, 6 : 99).
b.
Asmaul Husna : Ar Rahim/
(Allah Maha Penyayang)
c.
Pembiasaan
Sikap : Istiqomah (Teguh Pendirian)
d.
Hadist : Keutamaan Sedekah dapat
menyembuhkan penyakit (H.R Thabrani)
دَاوُ وْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَة ِ
“Obatilah orang-orang yang sakit dari kalian dengan
sedekah!” (HR. Abu Daud, Thabrani).
II.
PENGETAHUAN UMUM
Dalam pertanian, tanaman
adalah beberapa jenis organisme yang dibudidayakan
untuk dipanen ketika sudah mencapai tahap pertumbuhan tertentu. Menurut
kelompok produknya, tanaman biasa dibedakan menjadi:
{ Serealia,
tanaman pangan utama penghasil biji-bijian
{ Tanaman industri,
penghasil bahan baku industri (pewarna, karet, dan sebagainya)
{ Tanaman serat, untuk
menghasilkan serat yang digunakan untuk keperluan tertentu, seperti pembuatan tekstil dan kertas.
Sayuran merupakan bagian dari tumbuhan yang dapat
dimakan mentah maupun masak,
yaitu bagian
tumbuhan
selain buah dan biji-bijian. Definisi sayuran pada umumnya merupakan definisi
secara kuliner dan budaya, ada sayuran yang dikategorikan berdasarkan botani.
Misalnya
tomat
disebut sayuran secara kuliner/budaya,
namun tomat disebut
buah secara botani. Tomat dikategorikan sebagai sayuran meski mempunyai
struktur buah. Tanaman ini bisa tumbuh di dataran tinggi maupun rendah. Yang
penting tanaman tomat harus berada dalam tanah yang subur dan gembur.
VIII.
DAFTAR PUSTAKA
-
http://rajinmenanam01.blogspot.com/
IX.
PENANGGUNG JAWAB ACUAN TEMA
a.
Lazmi Indah
satriani, A.Md
b.
Rokhati, A.Ma



